(Halaman Sebelumnya...)
Diceritakan bahwasanya ada seorang laki-laki yang setiap kali melakukan sebuah dosa, dia selalu mencatat dosanya itu dalam pembukuan. Pada suatu hari dia melakukan sebuah dosa, dibukalah pembukuannya supaya dia dapat menuliskan itu di dalamnya. Tetapi dia tidak menemukan di dalamnya kecuali
tertulis firman Allah SWT: “Maka mereka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al-Furqan:70)
Yakni Allah mengganti syirik dengan iman, zina dan maksiat telah di ampuni diganti dengan sikap menjaga diri dan taat.
Sesungguhnya Umar bin Khattab r.a suatu ketika lewat di sebuah jalan dari jalan-jalan di Madinah, berpapasanlah dengannya seorang pemuda yang sedang membawa sebuah botol di bawah bajunya.
Umar berkata, “Wahai pemuda, apakah yang kau bawa di bawah bajumu?”
Padahal yang yang ada di dalam botol itu adalah arak, maka pemuda itu merasa malu untuk mengatakan ‘Arak’.
Dia berkata dalam hatinya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau buat malu aku di muka Umar, jangan Engkau buat rasa maluku dan tutupilah aku di hadapan Umar, maka aku tidak akan minum arak lagi untuk selamanya.”Kemudian dia berkata, “Hai Amirul Mukminin, yang aku bawa ini adalah cuka.”
Umar berkata lagi, “Coba perlihatkan kepadaku sehingga aku dapat melihatnya.”
Lalu dia membukanya di hadapan Umar dan benarlah apa yang dilihat Umar adalah cuka. Renungkanlah, ada makhluk yang bertobat karena takut kepada makhluk yang lain, lalu Allah SWT merubah araknya menjadi cuka karena Dia mengetahui keikhlasan tobat dari orang itu. Apabila ada orang yang durhaka dan miskin dari perbuatan baik bertobat dari perbuatan-perbuatan yang jahat, dengan tobat yang benar (sungguh-sungguh) dan dia menyesali dosanya, Allah akan merubah arak ibarat amal kejahatannya menjadi cuka ibarat ketaatan.
Disebutkan dari Abu Hurairah r.a berkata, “Aku pernah keluar suatu malam setelah aku menunaikan shalat isya’ akhir (Isya’ awal adalah Maghrib dan Isya’ akhir shalat isya’) bersama Rasulullah SAW. tiba-tiba ada seorang perempuan di tengah jalan, dia berkata, ‘Hai Abu Hurairah, sesungguhnya aku telah melakukan sebuah dosa maka apakah berguna bagiku kalau bertobat?’
Aku berkata, ‘Engkau telah celaka dan membuat celaka. Demi Allah tidak ada tobat bagimu.’Pingsanlah perempuan itu dan terjerembab, kemudian aku berlalu sambil berkata dalam hati, aku berfatwa sementara Rasulullah SAW ada di tengah-tengah kami, maka aku kembali kepada beliau dan aku ceritakan hal itu kepadanya.
Beliau bersabda, ‘Celakalah engkau dan mencelakakan.’
Bagaimana pendapatmu dengan ayat ini:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah … maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan.” (QS. Al-Furqan:68-70)
Diceritakan bahwasanya ada seorang laki-laki yang setiap kali melakukan sebuah dosa, dia selalu mencatat dosanya itu dalam pembukuan. Pada suatu hari dia melakukan sebuah dosa, dibukalah pembukuannya supaya dia dapat menuliskan itu di dalamnya. Tetapi dia tidak menemukan di dalamnya kecuali
tertulis firman Allah SWT: “Maka mereka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al-Furqan:70)
Yakni Allah mengganti syirik dengan iman, zina dan maksiat telah di ampuni diganti dengan sikap menjaga diri dan taat.
Sesungguhnya Umar bin Khattab r.a suatu ketika lewat di sebuah jalan dari jalan-jalan di Madinah, berpapasanlah dengannya seorang pemuda yang sedang membawa sebuah botol di bawah bajunya.
Umar berkata, “Wahai pemuda, apakah yang kau bawa di bawah bajumu?”
Padahal yang yang ada di dalam botol itu adalah arak, maka pemuda itu merasa malu untuk mengatakan ‘Arak’.
Dia berkata dalam hatinya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau buat malu aku di muka Umar, jangan Engkau buat rasa maluku dan tutupilah aku di hadapan Umar, maka aku tidak akan minum arak lagi untuk selamanya.”Kemudian dia berkata, “Hai Amirul Mukminin, yang aku bawa ini adalah cuka.”
Umar berkata lagi, “Coba perlihatkan kepadaku sehingga aku dapat melihatnya.”
Lalu dia membukanya di hadapan Umar dan benarlah apa yang dilihat Umar adalah cuka. Renungkanlah, ada makhluk yang bertobat karena takut kepada makhluk yang lain, lalu Allah SWT merubah araknya menjadi cuka karena Dia mengetahui keikhlasan tobat dari orang itu. Apabila ada orang yang durhaka dan miskin dari perbuatan baik bertobat dari perbuatan-perbuatan yang jahat, dengan tobat yang benar (sungguh-sungguh) dan dia menyesali dosanya, Allah akan merubah arak ibarat amal kejahatannya menjadi cuka ibarat ketaatan.
Disebutkan dari Abu Hurairah r.a berkata, “Aku pernah keluar suatu malam setelah aku menunaikan shalat isya’ akhir (Isya’ awal adalah Maghrib dan Isya’ akhir shalat isya’) bersama Rasulullah SAW. tiba-tiba ada seorang perempuan di tengah jalan, dia berkata, ‘Hai Abu Hurairah, sesungguhnya aku telah melakukan sebuah dosa maka apakah berguna bagiku kalau bertobat?’
Aku berkata, ‘Engkau telah celaka dan membuat celaka. Demi Allah tidak ada tobat bagimu.’Pingsanlah perempuan itu dan terjerembab, kemudian aku berlalu sambil berkata dalam hati, aku berfatwa sementara Rasulullah SAW ada di tengah-tengah kami, maka aku kembali kepada beliau dan aku ceritakan hal itu kepadanya.
Beliau bersabda, ‘Celakalah engkau dan mencelakakan.’
Bagaimana pendapatmu dengan ayat ini:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah … maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan.” (QS. Al-Furqan:68-70)
Lalu keluarlah aku dan bertanya kesana kemari, ‘Siapakah yang dapat menunjukkan aku kepada perempuan yang telah bertanya sebuah masalah padaku?’
Anak-anak kecil sampai berucap, ‘Gila Abu Hurairah’, tetapi akhirnya aku menemukannya juga dan aku kabarkan padanya tentang ceritaku dengan Rasulullah itu. Tersedu-sedu dia karena gembiranya dan berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki sebuah kebun dan aku sedekahkan untuk Allah dan utusan-Nya’.
Ada sebuah cerita dari Utbah Al-Ghulam, dia dari golongan ahli fasik yang menyimpang dan sangat terkenal kebejatannya, dan kegemaran minum araknya. Pada suatu hari dia masuk dalam majelis taklim Hasan Al-Bishri yang sedang membaca tafsir dari firman Allah: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid:16)
Yakni tidakkah datang waktu di mana hati mereka merasa takut?
Pada saat itu Syaikh Hasan memberikan nasihat dalam menafsirkan ayat ini dengan nasihat yang dalam, sehingga membuat orang-orang menangis. Lalu berdirilah seorang pemuda dari mereka dan berkata, “Wahai orang yang bertakwa dari sekalian orang-orang mukmin, adakah Allah SWT akan menerima orang fasik dan lemah seperti aku ini apabila mau bertobat?”Syaikh Hasan berkata, “Ya, Allah akan menerima tobat dari kefasikanmu dan kebejatanmu.” Setelah Utbhal-Ghulam mendengar pembicaraan ini, menjadi pucatlah wajahnya, bergetar semua persendiannya dan berteriak dengan sekali teriakan lalu roboh pingsan. Ketika dia siuman, Hasan menghampirinya dan mengatakan bait-bait ini:
Anak-anak kecil sampai berucap, ‘Gila Abu Hurairah’, tetapi akhirnya aku menemukannya juga dan aku kabarkan padanya tentang ceritaku dengan Rasulullah itu. Tersedu-sedu dia karena gembiranya dan berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki sebuah kebun dan aku sedekahkan untuk Allah dan utusan-Nya’.
Ada sebuah cerita dari Utbah Al-Ghulam, dia dari golongan ahli fasik yang menyimpang dan sangat terkenal kebejatannya, dan kegemaran minum araknya. Pada suatu hari dia masuk dalam majelis taklim Hasan Al-Bishri yang sedang membaca tafsir dari firman Allah: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid:16)
Yakni tidakkah datang waktu di mana hati mereka merasa takut?
Pada saat itu Syaikh Hasan memberikan nasihat dalam menafsirkan ayat ini dengan nasihat yang dalam, sehingga membuat orang-orang menangis. Lalu berdirilah seorang pemuda dari mereka dan berkata, “Wahai orang yang bertakwa dari sekalian orang-orang mukmin, adakah Allah SWT akan menerima orang fasik dan lemah seperti aku ini apabila mau bertobat?”Syaikh Hasan berkata, “Ya, Allah akan menerima tobat dari kefasikanmu dan kebejatanmu.” Setelah Utbhal-Ghulam mendengar pembicaraan ini, menjadi pucatlah wajahnya, bergetar semua persendiannya dan berteriak dengan sekali teriakan lalu roboh pingsan. Ketika dia siuman, Hasan menghampirinya dan mengatakan bait-bait ini:
“Wahai pemuda yang durhaka kepada Tuhan yang memiliki Arasy, tahukah engkau apa balasan orang-orang yang berbuat durhaka? Neraka Sa’ir bagi orang-orang durhaka, dia mempunyai suara nyala api dan kegeraman pada saat ubun-ubun dipegang. Kalau engkau tabah menghadapi neraka-neraka itu, berbuatlah durhaka. Kalau tidak jadikanlah dirimu orang yang menjauhi maksiat. Dengan kesalahan-kesalahan yang telah engkau lakukan itu, berarti engkau telah menggadaikan diri, maka bersungguh-sungguhlah dalam membebaskan dirimu.”
Sekali lagi Utbah berteriak dan kali ini lebih keras, serta roboh pingsan. Ketika telah siuman dia berkata, “Ya Syaikh, apakah betul Tuhan Yang Maha Penyayang akan menerima tobat orang seperti aku yang sangat tercela ini?”
Syaikh Hasan menjawab, “Tidak ada yang dapat menerima tobat orang yang menyimpang kecuali Tuhan Yang Maha Memaafkan.”
Sekali lagi Utbah berteriak dan kali ini lebih keras, serta roboh pingsan. Ketika telah siuman dia berkata, “Ya Syaikh, apakah betul Tuhan Yang Maha Penyayang akan menerima tobat orang seperti aku yang sangat tercela ini?”
Syaikh Hasan menjawab, “Tidak ada yang dapat menerima tobat orang yang menyimpang kecuali Tuhan Yang Maha Memaafkan.”
Kemudian Utbah mengangkat kepalanya dan berdoa tiga buah doa.
- Pertama dia berdoa, “Tuhanku, kalau Engkau menerima tobatku dan mengampuni dosa-dosaku, maka muliakanlah aku dengan kefahaman dan hafalan sehingga aku dapat menghafal semua yang aku dengar baik ilmu atau Al-Qur’an.”
- Kedua dia berdoa, “Tuhanku, muliakanlah aku dengan suara yang indah sehingga setiap orang yang mendengar bacaanku menjadi bertambah lembut hatinya, walaupun dia seorang yang keras membatu hatinya.”
- Ketiga dia berdoa, “Tuhanku, karuniakanlah kepadaku rezeki yang halal dan berilah aku rezeki dari arah yang tidak aku sangka.”
Demikianlah keadaan orang yang benar-benar kembali kepada Allah SWT, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang baik dalam amalnya.
Ada sementara ulama ditanya, “Apakah seorang hamba yang bertobat dapat mengerti, bahwa tobatnya diterima atau di tolak?”
Dia menjawab, “Tidak ada kepastian di dalam hal itu, tetapi ada tanda-tanda ke arah itu, yaitu:
- Dia akan melihat dirinya terhindar dari maksiat.
- Dia akan melihat kegembiraan jauh dari hatinya dan melihat Tuhan dekat disana.
- Dia akrab dengan orang-orang yang memiliki kebaikan dan jauh dari orang-orang yang memiliki kefasikan. Akhirnya dia melihat dunia yang sedikit menjadi banyak dan menganggap sedikit pada amal akhirat yang cukup banyak.
- Dia akan melihat hatinya sibuk dengan apa yang diwajibkan Allah padanya.
- Dia selalu memelihara lidahnya, melanggengkan berpikir dan selalu susah serta menyesali dosa-dosa yang terlanjur dia langgar.”
Artikel Menarik Lainnya:
- Rindu
- Kecintaan
- Tobat
- Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan
- Kelengahan
- Kemenangan Nafsu dan Permusuhan Setan
- Riyadhah dan Kesenangan Nafsu
- Sabar dan Sakit
- Takut Kepada Allah
- Takut
Demikianlah artikel menarik dengan Judul "Tobat (2)", dengan membaca dan memahami artikel ini semoga bisa memberi pemahaman dan pengetahuan lebih luas lagi. Terima kasih sudah hadir dalam halaman sederhana kami, mari jadikan segalanya lebih sempurna lagi.
No comments:
Post a Comment